Sinergi Dalam Membangun Batanghari

Ditulis oleh : Agus Budi Yarso, S.Pd.I (Ketua Media Centre Fadhil-Bakhtiar)

JURNALELITE.CO.ID,BATANGHARI – Pilkada serentak tahun 2020 telah selesai, tepatnya pada hari Rabu 09 Desember 2020. Pilkada ini merupakan salah satu cara negara di dalam mencari pemimpin terbaik untuk menjalankan roda pemerintahan dan membentuk tatanan demokrasi.

 

Menurut Hans Kelsen, filsuf dan ahli hukum dari Austria berpendapat bahwa “pengertian demokrasi adalah pemerintahan oleh rakyat dan untuk rakyat. Kekuasaan negara dilaksanakan oleh wakil-wakil rakyat yang terpilih. Dalam hal ini rakyat telah yakin bahwa segala kehendak dan kepentingannya akan diperhatikan oleh wakil rakyat dalam melaksanakan kekuasaan negara”.

 

Merujuk kepada pendapat ahli diatas bahwa jelas kecerdasan rakyat sangatlah berpengaruh didalam menentukan pemimpin yang akan dilahirkan, seperti kata-kata bijak mengatakan ; pemimpin berkualitas lahir dari pemilih yang cerdas.

 

Kalau kita mau persempit pembahasan atau ambil salah satu daerah yang mengikuti pilkada serentak, misalkan pilkada Kabupaten Batang Hari yang sampai saat ini masih menjadi kenangan tersendiri bagi saya pribadi.

 

pengalaman didalam mengikuti kontestasi pilkada di Kabupaten Batang Hari dengan posisi sebagai ketua Media Centre Fadhil-Bakhtiar, melihat ada 3 catatan penting persoalan budaya dan karakter masyarakat dalam hal menentukan pilihannya. Diantaranya adalah :

1. Pemilih Pragmatis ; yaitu pemilih yang menentukan pilihannya berdasarkan kebutuhan pada saat hari pemilihan saja. Misalkan : akan memilih apabila diberikan uang atau barang.

 

2. Pemilih Opportunis ; yaitu pemilih yang menentukan pilihannya berdasarkan kepentingan. Misalkan : akan memilih apabila mendapatkan sesuatu jabatan/tahta yang biasanya dari kalangan birokrat, proyeksi dalam skala besar oleh pemilik modal atau kaum kapital dan lain sebagainya.

 

3. Pemilih Ideologis ; yaitu pemilih yang menentukan pilihannya berdasarkan rasionalitas. Misalkan : melihat, mendengar dan bertemu langsung dengan pasangan calon untuk memahami visi misi serta program kerja yang akan dilakukan selama periodesasi berjalan.

 

Dari ketiga budaya dan karakter pemilih diatas, Secara pribadi saya sangat bersyukur melihat antusias masyarakat dengan rasionalitas mengingkan perubahan di kabupaten Batang Hari dan ini terbukti menangnya pasangan calon Fadhil-Bakhtiar melawan politik dinasty dengan selisih perolehan suara yang sangat jauh hampir sebelas ribu dari dua pasangan calon lainnya. Artinya bahwa ; pemilih ideologis di kabupaten Batang Hari sangat tinggi, walaupun masih ada sebahagian yang masih berfikir serta bertindak pragmatis dan opportunis. Oleh karena itu, kita berkeyakinan Budaya dan karakter pemilih sangat menentukan kemajuan pembangunan masa depan di kabupaten Batang Hari dengan tingginya pemilih yang ideologis atau mengedepankan rasionalitas.

 

Kemudian daripada itu, tidak ada maksud mengajari atau menggurui bapak/ibu yang melihat tulisan ini, saya hanya berpendapat bahwa ada 3 masa yang sebenarnya harus kita fahami di dalam berpolitik untuk mewujudkan hakekat demokrasi di negara ini :

1. Masa dimana kita memuji seseorang atau pasangan calon untuk memperkenalkan diri kepada orang banyak dalam rangka peningkatan POPULARITAS.

 

2. Masa dimana kita harus menguji seseorang atau pasangan calon untuk melihat kesungguhan atau keseriusannya di dalam mensosialisasikan diri dari berbagai sudut pandang dengan prestasi serta pengalaman yang dicapai selama ini, sehingga masyarakat merasa yakin untuk menentukan pilihan terhadap dirinya. Masa ini biasanya dalam rangka peningkatan ELEKTABILITAS.

 

3. Masa dimana kita harus menentukan tindakan/pilihan berdasarkan hati nurani dari ide dan gagasan berbentuk visi misi yang disampaikan oleh seseorang atau pasangan calon. Masa ini biasanya sangat sakral, dalam rangka melihat siapa sebagai PEMENANG pilihan rakyat.

 

Dari 3 hal tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa siapapun pemenang dalam kontestasi demokrasi di negara ini adalah kemenangan bersama yaitu kemenangan masyarakat, karena konstitusi kita mengatur bahwa pemenang merupakan pemilik suara terbanyak.

 

Menang kalah itu sudah biasa dalam pemilihan umum, karena sejatinya hidup itu adalah pilihan. Jadi…..tidak ada lagi nomor pemilihan pada saat kontestasi telah berakhir, yang ada hanyalah pemimpin rakyat terpilih. Untuk itu wajib bagi seluruh masyarakat untuk bahu-membahu mewujudkan pembangunan bersama pemimpin yang ditentukan sebagai pemenang secara aturan main negara.

 

Artinya…
Habis sudah pujian, karena masa memuji kita telah selesai.
Habis sudah ujian, karena masa menguji juga telah selasai.
dan pilihan sudah ditentukan serta pemenang sudah ditetapkan.

 

Sekarang bagaimana semua pihak yang berkepentingan mampu berkolaborasi serta sinergi secara kolektif bekerjasama untuk menjadikan atau mewujudkan cita-cita bersama secara cepat dan tepat.

%d blogger menyukai ini: