Diduga Perusahaan Tambang Batu Bara di Batanghari Cemari Lingkungan

JURNALELITE.CO.ID, BATANGHARI – Limbah Perusahaan merupakan suatu cairan yang sangat berbahaya apabila limbah tersebut tidak dilakukan penanganan khusus terlebih dahulu.

 

Seperti halnya limbah perusahaan Sentosa Prima Cold (SPC) yang bergerak di bidang batu bara, terletak di desa Mersam Kecamatan Mersam, Kabupaten Batanghari, Jambi.

 

Limbah tersebut langsung dari pusat pertambangan batu bara yang mengalir langsung ke anak sungai di  tiga di Desa setempat.

 

Dari pantauan beberapa awak media, saat kelokasi tambang batu bara milik perusahaan Sentosa Prima Cold (SPC) memang terlihat jelas bahwa aliran dari limbah tersebut mengalir ke anak sungai yang langsung tersalur ke sungai Batanghari.

 

Saat di konfirmasi oleh awak media ke pihak perusahaan, Dwi salah satu staf perusahaan mengatakan, kejadian tersebut merupakan kelalaian pihak perusahaan.

 

” Iya pak kami mengakui bahwa limbah yang mengalir ke anak sungai tersebut merupakan kelalaian dari pihak perusahaan,” Ujarnya.

 

Lanjut Dwi, sering terjadinya jebol tambang yang mengakibatkan limbah tambang langsung mengalir ke aliran sungai tersebut adanya miss komunikasi internal di setiap divisi perusahaan.

 

” Kami di internal perusahaan ini pak sering terjadi kurang berkoordinasi terutama di bagian produksi tambang,” Sambungnya.

 

Di tempat yang terpisah, Penjabat Kepala Mukhlis Desa Mersam saat di konfirmasi awak media membenarkan adanya kejadian tersebut, dan beberapa masyarakat pun juga sudah melaporkan ke pihak pemerintah desa.

 

” Sebelum rekan-rekan media konfirmasi, kami dari pemerintah desa juga telah mendapatkan laporan bahwa adanya aliran limbah dari tambang batu bara milik perusahaan Sentosa Prima Cold (SPC),” Kata nya.

 

” Dan setau saya limbah tersebut sering terjadi mengalir ke aliran sungai dalam waktu dua bulan terakhir ini, kepada pemerintah daerah mohon bantuannya agar dari perusahaan tersebut dapat mengatasi limbah dari tambang agar tidak mencemari lingkungan, ” Tutup Mukhlis.

Editor : Rudi Siswanto

%d blogger menyukai ini: